Kalero
atau tarian pelepas arwah ini merupakan salah satu tradisi atau ritual
kebudayaan yang berada di wilayah Bima. Kalero merupakan tarian pelepasan arwah
yang dilakukan oleh masyarakat Donggo untuk pelepasan arwah para leluhur,
anggota keluarga dan sahabat kepada Yang Tuhan Maha Kuasa. Kalero ini merupakan
tarian dan nyanyian yang berisi pujian, ratapan dan penghormatan terhadap arwah
leluhur, keluarga dan sahabat yang telah meninggal dunia . Pakaian yang
digunakan untuk ritual kalero ini menggunakan pakaian yang berwarna hitam. Gerakan dalam tarian kalero melambai sebagai
wujud ekspresi atau kesedihan terhadap
arwah yang telah meninggal karena mereka percaya seseorang yang telah meninggal
dunia masih hidup tetapi di alam yang lain dengan kehidupan yang kekal dan
penuh dengan kedamaian.
Masyarakat
Donggo merupakan masyarakat yang masih primitif dan sangat memegang teguh tradisi dan adat istiadat
daerahnya. Tradisi dan kebudayaan yang
diwariskan oleh leluhurnya secara turun- temurun. Masyarakat Donggo meyakini
bahwa orang-orang yang telah meninggalkan mereka seperti keluarga dan sahabat
akan tetap mengunjungi keluarga, tetangga dan kerabatnya yang masih hidup walaupun
orang tersebut berada di alam lain. Kalero ini dipersembahkan untuk melepas dan
menghormati arwah yang telah pergi sebagai wujud kesedihan dan penghormatan.
Kontroversi
dari tarian Kalero
Ritual adat kalero yang dilakukan
oleh masyarakat donggo merupakan bentuk kepercayaan dan keyakinan mereka
terhadap arwah keluarga dan kerabat mereka yang sudah meninggal akan memperoleh
kedamaian yang abadi di alam lain dengan cara mereka melakukan tarian kalero .
Namun, pada hakikatnya masyarakat memiliki persepsi yang berbeda antara masyarakat
yang satu dengan yang lainnya. Ada yang memandang kalero ini sebagai suatu yang
positif dan negatif, sisi positifnya dimana keluarga melakukan tarian ini
bertujuan untuk menghantarkan dan menghormati arwah yang telah meninggalkan
keluarga atau sahabatnya. Sisi negatifnya adalah tarian kalero ini dipandang
sebagai kebudayaan yang primitif karena tidak banyak masyarakat Bima yang
mengetahui kebudayaan ini, budaya ini dipandang sebagai suatu budaya yang
dianggap kontroversi dan orang yang melakukan ritual tarian kalero ini percaya
dan meyakini bahwa orang yang telah meninggal akan tetap mengunjungi keluarga
atau sahabat mereka yang masih hidup dan menggabungkan antara kebudayaan dengan
keagamaan. Kontroversi dari tarian kalero ini yaitu mereka menghubungkan
ritual, adat istiadat dan budaya peninggalan dari leluhur mereka ke dalam
keyakinan dan kepercayaan mereka. Sebenarnya kebudayaan kalero ini bersifat
positif karena tetap mempertahankan tradisi atau ritual yang ada di daerah Bima
di tengah arus modernisasi pada saat ini. Tetapi di sisi lain kalero ini
dianggap sebagai budaya yang negatif dan kontroversi karena pada dasarnya
kepercayaan atau keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak boleh digabungkan
atau dikaitkan dengan budaya yang merupakan warisan dari leluhur karena jika
menggabungkan tradisi dengan keyakinan atau kepercayaan kita kepada Tuhan maka
kita tidak bisa atau sangat sulit membedakan dan memilah antara kebudayaan dan
keyakinan atau kehidupan beragama.
Cara
meluruskan ritual kalero agar menjadi suatu nilai yang baik
Sebagai
masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan dan religius sudah
sewajarnya kita harus memilah antara kehidupan religius dengan ritual atau
kebudayaan yang sudah menjadi tradisi yang berkembang bagi masyarakat. Tarian
Kalero ini merupakan ritual positif yang sangat menjunjung tinggi atau
menghormati arwah yang telah meninggal. Namun di dalam kegiatannya masih
terdapat hal-hal yang menyimpang yang terjadi pada masyarakat Donggo seperti di
dalam tarian tersebut terdapat pujian, penghormatan dan ratapan terhadap arwah
yang telah meninggal. Cara meluruskan ritual Kalero yaitu dengan cara
memisahkan yang mana merupakan budaya dan agama dengan melakukan sosialisasi
dan memberikan pemahaman kepada masyarakat yang bersangkutan agar mereka secara
perlahan-lahan dapat menerima dan memisahkan antara kebudayaan dengan religius.
Kemudian bagi masyarakat yang mengganggap kebudayaan ini negatif atau
kontroversi sebaiknya dihilangkan karena pada dasarnya kebudayaan ini bersifat
positif namun pada penggunaannya saja yang masih ada unsur-unsur yang negatif.
Untuk itu sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus yang harus meluruskan
kebudayaan tersebut agar tidak dipandang sebagai suatu hal yang negatif.
Tradiai yang bagus. pertahankan agar dapat sinikmatinoleh generasi yang akan datang dampak positifnya
BalasHapuskebudayaan bima sangatlah beraneka ragam, sebagai generasi muda sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan kebudayaan kita agar tetap terjaga dan dinikmati oleh generasi yang akan datang. terima kasih
HapusRitual trafisi yg menari...
BalasHapusSmoga tetap di pertahankan...
terima kasih :D
HapusLestarikan budaya..
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
HapusPembahasan yang menarik, sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Dan semoga bermanfaat juga bagi pembaca lainnya. Terus kembangkan, terima kasih.
BalasHapusterima kasih atas masukan dan sarannya untuk saya. Semoga kedepannya saya bisa membuat blog yang lebih baik dan dapat memperbanyak wawasan dan informasi tentang budaya daerah Bima.
HapusTerimakasih unt ilmunya. Sangat bermanfaat😊
BalasHapusamin...terima kasih
HapusMasih bingung sih sama ritual ini. Tetapi, disisi lain bisa menambah pengetahuan.
BalasHapusMasih bingung sih sama ritual ini. Tetapi, disisi lain bisa menambah pengetahuan.
BalasHapusSangat bagus Menambah pengetahuan tentang kebudayaan bima.
BalasHapusterima kasih sudah membaca blog ini
Hapussangat bagus dan menambah wawasan
BalasHapusterima kasih sudah membaca
HapusWah ternyata bima punya tradisi seperti ini yaaa, sy pribadi sebagai orang bima baru tau kalau ada tradisi kalero di bima.
BalasHapusMenambah oengatahuan bgt, semoga kita sebagai generasi baru bisa melestarikanya sehingga kalero ini bisa tetap eksis.
iya, sebagai orang bima kita harus bangga akan tradisi kebudayaan yang beraneka ragam karena kebudayaan itulah sebagai aset daerah bima yang berharga dan harus dijaga agar tidak tergerus arus budaya yang semakin modern. terima kasih sudah membaca
HapusMenarik tulisanaya saudariku...
BalasHapusapa arti dari kalero itu saudariku???
Tarian pelepas arwah. Terima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
HapusBaru saya tau ada tarian ini di bima...
BalasHapusHebaat.. bermanfaat sekali..😊😊
Terima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
Hapustuliasnya menambah pengetahuan saya tentang tradisi daerah bima, sungguh sangat bermanfaat
BalasHapusterima kasih sudah membaca
HapusBima memang mempunyai keragaman budaya 😊
BalasHapusbima memiliki keanekaragaman budaya yang sangat menarik dan unik. terima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
HapusTradisi yg sangat bagus 👍👍
BalasHapusTerima kasih sudah membaca
HapusTradisi yg sangat bagus 👍👍
BalasHapusterima kasih sudah membaca
Hapusbaru tau tentang tradisi ini di Bima.
BalasHapustrima kasih atas informasinya
terima kasih sudah membaca semoga bermanfaat
HapusPostingan yang menarik,membuat setiap pembaca tertarik dengan hal yg disampaikan,bahasa yg sederhana dan isi yg menarik menurut saya.Patut untuk dipelajari dan tentunya dilestarikan lagi setiap adat istiadat yg masih hidup di sekitar kita.Salah satunya dengan share dan memposting hal seperti ini termasuk salah satu bentuk upaya pelestarian disamping mempraktekan tarian itu sendiri secara langsung. Usaha yg patut untuk diapresiasi,semangat untuk terus menggali dan melestarikan budaya daerah masing masing.
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat dan salam budaya
HapusTarian pelepas arwah?? Baru dengar ada tradisi seperti ini. Terima kasih infonya.
BalasHapusTerima kasih sudah memba blog ini semoga bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan tentang kebudayaan bima
HapusLuar biasa
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
HapusTuliasannya bagus, tapi ada yang ingin saya tanyakan apakah tarian kalero juga di adakan di daerah lain selain donggo
BalasHapustarian kalero hanya ada di wilayah donggo saja, karena disanalah masyarakat bisa mempertahankan kebudayaan kalero yang asri ini. terima kasih sudah membaca semoga bermanfaat
HapusCoba diposting juga gambarnya biar org bisa lebih tau gmn bentuk tradisi itu
BalasHapusCoba diposting juga gambarnya biar org bisa lebih tau gmn bentuk tradisi itu
BalasHapusTerimakasih untuk informasi tentang kebudayaan dan tradisi Bima😊
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
HapusSetiap ritual kebudayaan tetap dilestarikan dengan mengambil nilai2 yang baik.
BalasHapusTerima kasih sudah membaca semoga bermanfaat
HapusSetiap ritual kebudayaan tetap dilestarikan dengan mengambil nilai2 yang baik.
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
Hapussaya sebagai orang bima baru tau klw ada tradisi sperti in..trus lestrikan
BalasHapusTerima kasih sudah membaca blog ini. Kebudayaan bima sangat unik dan beraneka ragam untuk kita ketahui dan dipelajari. Semoga bermanfaat
HapusSangat bermanfaat untuk menambah wawasan. Semoga dapat di lestarikan
BalasHapusTerima kasih sudah membaca semoga bermanfaat
HapusLestarikan !
BalasHapusSalam budaya !
HapusTerima kasih sudah membaca blog ini semoga bermanfaat
Saya sendiri baru tahu bahwa ternyata budaya tsb ada, sangat menarik dan luar biasa, wawasan sy mengenai budaya daerah bima semakin bertambah, terima kasih atas informasi yg sangat bermanfaat nya, terus lestarikan budaya daerah yaa.. semangattt
BalasHapusSaya sendiri baru tahu bahwa ternyata budaya tsb ada, sangat menarik dan luar biasa, wawasan sy mengenai budaya daerah bima semakin bertambah, terima kasih atas informasi yg sangat bermanfaat nya, terus lestarikan budaya daerah yaa.. semangattt
BalasHapusTerima kasih untuk informasinya yang sangat bermanfaat
BalasHapus